Pak Harto yang kini terbaring lemah di Rumah Sakit Pusat Pertamina kondisinya semakin mengundang simpati dari berbagai kalangan. Jenderal besar yang pernah memimpin Indonesia selama 32 tahun itu kini sudah tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan seluruh fungsi organ tubuhnya nyaris digantikan oleh peralatan guna menopang kelangsungan hidupnya.Entah apalagi yang akan terjadi dengan Pak Harto. Tim dokter yang menangani Beliau pun secara rutin mengadakan jumpa pers terkait dengan kesehatan Pak Harto yang belum juga membaik. Banyak pihak yang terus berdatangan menjenguk. Tak hanya mantan pejabat era orde baru, mantan perdana menteri pun menyempatkan diri menjenguk Pak Harto langsung ke rumah sakit. Di samping itu sejumlah tokoh masyarakat dan para aktivis juga menyempatkan diri.Tak berlebihan kiranya, Pak Harto mendapat simpati dari banyak pihak. Doa dan harapan agar kondisi kesehatan Pak Harto membaik tercurah sepenuhnya. Namun kita semua tidak dapat memastikan apakah Pak Harto dapat melewati masa-masa perawatannya kali ini dengan kesembuhan.Dari berita dan informasi yang tersiar melalui media cetak, rasa pesimis melingkupi suasana yang sudah berbalut sedih itu. Mengapa demikian? Sebab persiapan-persiapan sudah dilakukan sebelumnya jika sewaktu-waktu Pak Harto meninggal dunia, terutama di Astana Giribangun yang merupakan komplek pemakaman keluarga Soeharto.Tempat tersebut sudah ditutup untuk umum untuk sementara waktu. Sejumlah mobil polisi dan petugas keamanan telah berjaga-jaga siang dan malam. Tak hanya itu, di nDalem Kalitan Surakarta juga terlihat suasana yang sama. Siapa pun tak diijinkan masuk untuk keperluan apapun, kecuali orang-orang tertentu.Semua itu menunjukkan sikap pesimis, seolah-olah Pak Harto akan meninggal dunia dalam waktu dekat. Tetapi jika dilihat dari perkembangan kondisi di rumah sakit yang tidak juga membaik, hal itu mungkin dapat dimaklumi. Imbasnya, para pedagang pun kian bersemangat terutama para pedagang bunga yang menambah stok penjualan mereka melebihi hari-hari biasanya. Ini dilakukan mengingat peristiwa yang lalu saat meninggalnya Ibu Tien Soeharto, pesanan bunga begitu banyak sehingga mereka kuwalahan melayani.Di Komplek Astana Giri Bangun, sejumlah pedagang juga sudah berdatangan. Mereka memanfaatkan suasana ini, untuk menjajakan dagangannya kepada orang-orang yang datang ke tempat tersebut. Meskipun komplek itu ditutup untuk umum, namun para peziarah tetap saja ada yang datang malah lebih ramai dari biasanya. Meskipun tidak sampai ke komplek makam, para peziarah sudah cukup puas berada di luar sampai batas yang diperbolehkan.Jika melihat suasana yang seperti ini, memang tidak berlebihan jika sewaktu-waktu Pak Harto meninggal dunia. Namun itu hanyalah sebuah keyakinan setelah melihat perkembangan yang ada. Tak ada yang bisa meramalkan bagaimana nasib Pak Harto. Walau bagaimanapun tangguhnya seorang jenderal besar, ia tak akan sanggup melawan ketuaan fisik, kerentaan usia dan kodratnya sebagai manusia.Usaha dan upaya tim dokter yang menangani Pak Harto rasanya sudah maksimal. Berbagai peralatan dan obat sudah diupayakan demi kesembuhan Pak Harto. Kiranya kita hanya berharap dan mendoakan Beliau untuk diberikan yang terbaik. Dalam keadaan yang demikian itu, tidak bijak rasanya kalau kita masih menuntut yang macam-macam.Untuk sementara waktu mari kita lupakan kesalahan Beliau agar tidak membebani semangat hidupnya dan keluarganya. Meskipun kesalahan jelas ada, tapi bukan berarti dalam suasana yang seperti ini kita tetap menuntut sehubungan dengan kesalahan di masa lalu. Biarkan Pak Harto menjalani perawatannya dengan baik ditemani anak-anak dan seluruh kerabatnya. Hal ini semata-mata untuk kepentingan kemanusiaan saja, bukan demi kepentingan publik atau hukum.
Rasanya dengan situasi dan kondisi yang demikian itu, siapapun menginginkan ketenangan dan bebas dari pihak-pihak yang dapat mengusik suasana. Mungkin ini pula yang sedang dirasakan oleh putra-putri Pak Harto. Kegelisahan, kecemasan, takut kehilangan dan sebagainya sedang menyelimuti mereka, bahkan siapa pun orangnya yang salah satu keluarganya tergolek tak berdaya menunggu keajaiban untuk sembuh
Rasanya dengan situasi dan kondisi yang demikian itu, siapapun menginginkan ketenangan dan bebas dari pihak-pihak yang dapat mengusik suasana. Mungkin ini pula yang sedang dirasakan oleh putra-putri Pak Harto. Kegelisahan, kecemasan, takut kehilangan dan sebagainya sedang menyelimuti mereka, bahkan siapa pun orangnya yang salah satu keluarganya tergolek tak berdaya menunggu keajaiban untuk sembuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar